Walimah.Info – Catatan ini dari kajian Ustadz Syafiq, topiknya, “Andai Aku Tidak Menikah Dengannya”.
Bismillah, Ustadz Syafiq Riza Basalamah memulai kajian dengan renungan tajam:
“Apa sih enaknya datang ke kajian, pulang duit berkurang. Tapi karena kita punya iman, ada kelezatan yang kita rasakan ketika melangkahkan kaki ke majelis ilmu.”
Beliau mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar status sosial.
Banyak orang menyesal dalam hatinya berkata, “Andai aku tidak menikah dengannya.”
Padahal menikah itu ibadah besar yang punya tujuan jelas dalam Islam.
Persiapan Menikah Itu Wajib
Beliau menjelaskan, menikah itu seperti melamar pekerjaan.
“Orang yang ingin membina rumah tangga itu hendaknya memposisikan dirinya seperti orang yang hendak melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Apa yang antum persiapkan?”
Dalam Islam, pernikahan perlu persiapan ilmu, niat, dan mental. Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS Ar-Rum: 21)
Niat Menikah yang Benar
Ada beberapa niat utama dalam menikah menurut Ustadz:
1. Mencari sakinah
“Allah menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kalian mendapatkan ketenangan.”
Dalilnya jelas di QS Ar-Rum: 21 tadi, bahwa tujuan utama menikah adalah sakinah (ketenteraman), mawaddah (cinta), dan rahmah (kasih sayang).
2. Menjaga diri dari maksiat
“Menikah itu menjaga pandangan mata dan menjaga kemaluan.”
Dalam hadits disebutkan:
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menahan syahwat.” (HR. Bukhari no. 5066, Muslim no. 1400)
3. Memperbanyak keturunan
“Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, karena aku akan membanggakan jumlah kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat.”
Hadits:
تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Tazawwajū al-wadūda al-walūda fa innī mukātsiru bikumul umama yaumal qiyāmah.
“Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan membanggakan kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 2050, hasan)
4. Menyempurnakan separuh agama
“Siapa yang menikah, maka dia telah menyempurnakan separuh agamanya.”
Hadits:
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِيمَانِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي
Man tazawwaja faqad istakmala nisfal īmān, falyattaqillāha fin nisfil bāqī.
“Barangsiapa menikah, maka dia telah menyempurnakan separuh imannya. Maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah pada separuh sisanya.” (HR. Thabrani, hasan)
5. Jaminan masa depan
“Ketika antum punya anak yang soleh, itu jaminan masa tua dan jaminan setelah mati. Tiap hari mereka mendoakan.”
Dalilnya:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Salah Persepsi dan Salah Pilih Pasangan

Banyak pernikahan gagal karena salah niat dan salah persepsi.
“Ada yang menikah hanya karena malu disebut jomblo. Ada pula yang hanya melihat kecantikan fisik. Padahal kecantikan itu akan berkurang, kecantikan hati dan agama lah yang akan bertahan.”
Hadits:
“Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari no. 5090, Muslim no. 1466)
Pernikahan Itu Kerjasama Tim
Ustadz menekankan bahwa menikah itu bukan hanya soal romantisme.
“Menikah itu kerja tim. Bukan kerja sendiri-sendiri. Harus mampu berbaur dengan pasangan dan keluarga.”
Dalil:
“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita…” (QS An-Nisa: 34)
Sikap Ketika Mengetahui Kekurangan Pasangan
Beliau menegaskan, tidak ada manusia tanpa kekurangan.
“Kalau kalian membenci istri kalian, bisa jadi Allah menjadikan banyak kebaikan di balik itu.”
Dalil:
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)
Nabi bersabda:
“Tidak boleh seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika ia tidak menyukai salah satu perangainya, pasti ada perangai lain yang ia sukai.” (HR. Muslim no. 1469)
Tentang Poligami dan Keturunan
Dalam sesi tanya jawab, ada pertanyaan tentang wanita mandul.
“Kalau wanita tahu dirinya tidak bisa memberi keturunan, maka boleh ia memberi izin suaminya menikah lagi.”
Beliau mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS dan Sarah yang mengizinkan beliau menikahi Hajar hingga lahirlah Nabi Ismail AS.
Menikah Itu Menyempurnakan Agama
Menikah menutup celah syahwat yang bisa menyeret pada dosa.
Namun menikah juga menuntut ilmu, kesiapan mental, dan niat yang lurus.
“Kalau salah niat, hanya mengejar status, maka pernikahan menjadi neraka sebelum neraka.”
Inspirasi Penting
Beberapa kutipan inspirasi kajian Andai Aku Tidak Menikah Dengannya:
- “Dunia ini perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)
- “Rumput tetangga lebih hijau karena bukan milik kita.”
- “Kalau salah pilih pasangan, jangan salahkan siapapun kecuali dirimu yang tidak belajar sebelum menikah.”
- “Menikah itu bukan hubungan sosial semata. Ini syariat Islam untuk menjaga kehormatan diri dan memakmurkan bumi.”
Akhir Sesi Andai Aku Tidak Menikah Dengannya
Kajian diakhiri dengan doa agar Allah memberikan pasangan terbaik, menjadikan rumah tangga sakinah mawaddah warahmah, dan menghadirkan keturunan yang menyejukkan mata.