Dr. Gary – Cara Mengisi Tangki Cinta Anak yang Kosong

Walimah.Info – Apa itu Tangki Cinta? Nah, dalam dunia psikologi anak, konsep “tangki cinta” atau “love tank” ini sedang populer banget.

Konsepnya dasarnya gini, setiap anak punya kebutuhan emosional yang butuh dipenuhi, dan cara memenuhinya beda-beda.

Kalau tangki ini kosong, anak bisa menunjukkan perilaku yang nggak mengenakkan.

Nah, poster yang kamu kirim ini menghubungkan perilaku negatif anak dengan love language-nya yang kosong.

Siapa Pencetus Konsep Tangki Cinta?

Konsep love language itu dicetuskan oleh Dr. Gary Chapman. Awalnya, dia nulis buku berjudul “The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate” buat pasangan suami istri.

Nah, karena konsepnya populer, Dr. Gary Chapman dan Dr. Ross Campbell nulis buku lagi khusus untuk orang tua, yaitu “The 5 Love Languages of Children: The Secret to Loving Children Effectively”.

Buku inilah yang jadi rujukan utama soal love language pada anak.

apa itu tangki cinta anak Dr. Gary Chapman

Cara Mengisi Tangki Cinta?

Poster ini merangkum lima poin yang mengaitkan perilaku anak dengan love language yang mungkin kurang terpenuhi.

Mari kita bedah satu per satu:

  1. Suka Memukul – Physical Touch: Ini cukup masuk akal. Anak yang kekurangan sentuhan fisik positif (pelukan, tepukan, dll) bisa jadi mencari perhatian dengan cara negatif, salah satunya memukul. Mereka butuh kontak fisik.
  2. Suka Mengejek – Words of Affirmation: Anak yang sering diejek atau kurang dapat pujian bisa mengembangkan kebiasaan mengejek orang lain. Mungkin dia ingin orang lain merasakan hal yang sama, atau dia cuma mencari validasi dan perhatian yang selama ini nggak didapat.
  3. Suka Ngambek – Quality Time: Ngambek adalah cara anak mencari perhatian. Kalau orang tua jarang punya waktu berkualitas buat dia, ngambek bisa jadi ‘jurus’ andalan supaya orang tua menoleh dan menghabiskan waktu dengannya.
  4. Tidak Suka Berbagi – Receiving Gift: Ini agak perlu hati-hati. Tidak suka berbagi memang bisa terkait dengan kebutuhan “receiving gift” yang nggak terpenuhi, di mana anak merasa punya barang adalah bentuk kasih sayang. Tapi, nggak suka berbagi juga bisa karena anak belum memahami konsep empati atau merasa barangnya adalah satu-satunya bentuk keamanan yang dia miliki.
  5. Suka Teriak – Act of Service: Anak yang teriak bisa jadi merasa nggak didengarkan atau nggak dilayani kebutuhannya. Dengan teriak, dia berharap kebutuhannya segera dipenuhi. Jadi, ini bisa jadi cara anak untuk “meminta bantuan” atau “meminta dilayani” secara ekstrim.

 

Apakah Anak Nakal Sebab Tangki Cinta Kosong Saja?

Secara keseluruhan, poster ini valid dan didasarkan pada konsep yang benar dari buku “The 5 Love Languages of Children” karya Dr. Gary Chapman dan Dr. Ross Campbell.

Namun, perlu diingat, ini cuma salah satu sudut pandang. Perilaku negatif anak bisa juga dipicu faktor lain, seperti:

  • Perasaan iri hati
  • Kecemburuan
  • Stres di lingkungan sekolah
  • Tekanan dari orang tua
  • Kondisi emosional yang belum stabil

Jadi, love language bisa jadi salah satu penyebab, tapi bukan satu-satunya ya. Penting buat orang tua tetap observasi dan mencari akar masalahnya secara menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *