Dosa Pacaran Sebelum Pernikahan Menurut Islam

Walimah.Info – Bahas sedikit mengenai dosa pacaran sebelum menikah. Di antara perilaku orang Barat yang buruk dan telah menyebar di dunia Islam pada saat ini adalah adanya hubungan asamara (pacaran) sebelum pernikahan. Dalam Islam tidak dikenal adanya hubungan antara lelaki dan perempuan untuk saling kenal sebelum pernikahan.

Ayat Hadis Dosa Pacaran Sebelum Akad Nikah Pernikahan dalam IslamBahkan hubungan seperti ini telah menyebabkan kerusakan yang banyak menimpa pemuda dan pemudi. Apa yang akan terjadi jika seorang pemuda melakukan hubungan panas dengan seorang pemudi dengan tujuan untuk mengenal lebih jauh sebelum menikah, namun ternyata kemudian ia meninggalkannya?

Siapa yang merenungi kondisi pemuda yang melakukan hal demikian, maka ia akan mendapati bahwa pemuda semacam ini adalah pemuda yang tidak menghendaki pernikahan. Tujuan mereka sebenarnya hanyalah hiburan semata, ganti-ganti pasangan atau menipu wanita untuk berbuat dosa, dan setelah terjadi sesuatu maka ia akan mengingkarinya bahkan memutuskan hubungan dengan wanita tersebut.

Dan yang amat disayangkan adalah hubungan sebelum nikah yang berbuah perzinaan hingga hamil sudah membudaya, padahal mereka belum menikah. Inilah yang termasuk musibah-musibah zaman ini.

Berdasarkan ini semua, orang yang berakal tidak ragu-ragu untuk mengharamkan masalah ini karena dampaknya yang buruk dalam menghancurkan masyarakat. Apa yang terjadi pada saat ini, bahwa para pemuda keluar bersama dengan para pemudi untuk alasan saling mengenal sebelum menikah adalah kemungkaran yang tidak diridhoi seorang muslim yang takut kepada Allah Ta’ala.

 

Jika sebagian pemudi meremehkan masalah ini dan menyebabkan para pemuda berani melakukan kemungkaran dan keji serta tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan, itu karena mereka juga turut merasakan kenikmatan dari hubungan yang bernilai dosa ini. Mengapa mereka tidak menikah saja?!

Pacaran Merupakan Perbuatan yang Dimurkai Oleh Allah Subhanahu Wata’ala

gambar no pacaran sebelum akad nikah

Kalau Sholeh / Sholehah, Pasti tidak Pacaran

Kalau sekiranya para pemudi tersebut menjaga kehormatan dan kesucian mereka, niscaya akan sedikit keburukan, dan yang nampak adalah kehormatan dan kesucian. Sehingga tidak diragukan lagi, hubungan yang terus dilakukan, baik melalui telepon atau internet maupun dengan bertemu langsung, semuanya dikelilingi dengan bahaya dan dosa.

Demikian juga halnya dengan sikap sebagian pemuda yang meremehkan dalam memandang wanita, berbicara dengan mereka, atau saling menyurati dan seterusnya, merupakan sebab-sebab fitnah. Maka tidak diragukan lagi jika dalam masalah ini Islam tidak membolehkan, walaupun dengan niat akan mengakhirinya dengan pernikahan.

Oleh karena itu, pacaran sebelum pernikahan dimurkai Allah Ta’ala dan menjauhkan kita dari taufiq-Nya.

Sesungguhnya dalam hubungan untuk saling kenal yang dilakukan antara pria dan wanita, yang orang-orang menamainya dengan cinta atau pacaran, banyak mengandung hal-hal yang haram secara syar’i dan ahklak.

Tidak diragukan lagi bagi orang yang berakal untuk mengharamkannya, karena didalamnya mengandung: khalwat (berdua-duaan) antara pria dan wanita, melihat lawan jenis, memegang dan mencium, ucapan-ucapan cinta yang dapat mendorong syahwat. Bahkan terkadang hubungan seperti ini berakibat pada yang lebih besar sebagaimana yang banyak kita saksikan pada saat ini.

Telah banyak studi yang menyebutkan gagalnya pernikahan yang didahului dengan pacaran antara lelaki dan wanita, dan banyak juga pernikahan yang sukses walaupun tidak didahului dengan hubungan terlarang tersebut, yang oleh kebanyakan manusia dikatakan sebagai “pernikahan taqlid / pernikahan buta”.

Penelitian lapangan yang pernah dilakukan oleh seorang dosen sosiologi Prancis Soul Jourdun menunjukkan bahwa: “Pernikahan akan semakin langgeng jika antara keduanya (suami istri) belum ada kecintaan sebelum pernikahan”. Dalam penelitian yang lain, yang dilakukan oleh dosen sosiologi Mesir, Ismail Abdul Bari terhadap 1500 keluarga didapatkan bahwa lebih dari 75 % pernikahan yang didahului pacaran justru berakhir dengan perceraian jika dibandingkan dengan pernikahan yang tidak didahului dengan pacaran yang tidak lebih dari 5 % kasus perceraian. (sumber: Buku Pernikahan Bahagia oleh Muhammad Al-Asad)

 

Ayat Quran dan Hadis Larangan Dosa Pacaran Sebelum Menikah Menurut Islam

Kita sudah sudah tahu dosanya, tapi kita harus paham, mengapa bisa orang berpacaran sebelum menikah. Pelajari sebabnya agar jangan terjerumus didalamnya:

1. Perasaan simpati yang membuat seseorang buta dalam melihat dan menghadapi kekurangan / aib pasangannya. Terkadang hal tersebut ada di dalam diri kedua-duanya atau salah satunya yang tidak sesuai dengan pasangannya. Namun aib tersebut baru nampak dan terlihat sesudah pernikahan.

2. Dua orang yang dimabuk cinta ini mengira bahwa hidup ini dipenuhi dengan cinta dan tidak ada yang lain. Tidak ada yang mereka bicarakan kecuali cinta. Namun perkiraan seperti ini akan hilang ketika dia telah menikah, yaitu ketika ia menemui berbagai tanggung jawab dan kesulitan hidup.

3. Orang yang dimabuk cinta ini tidak membiasakan untuk berdialog dan berdiskusi, tapi mereka banyak santai dan menikmati pacaran untuk mencari kerelaan pasangannya. Padahal jika sudah menikah tidak akan seperti itu. Banyak yang bermasalah dalam proses dialognya karena tiap pasangan telah terbiasa dengan keadaan pasangannya ketika sebelum menikah tanpa adanya dialog.

jangan dekati zina sesungguhnya

Pacaran? Pasti sudah melakukan Zina.

4. Yang nampak pada pasangan orang yang sedang berpacaran adalah bukan gambaran aslinya. Kelembutan dan kebaikan yang ditunjukkan seseorang adalah untuk mencari kerelaan pasangannya. Ini adalah gambaran yang ditunjukkan oleh orang yang sedang berpacaran pada masa tertentu yang biasanya disebut dengan “kecintaan”. Hal ini tidak akan berlanjut selama hidupnya, kelak akan nampak gambaran atau sifat yang asli setelah pernikahan, sehingga akan muncul pula banyak permasalahan.

5. Masa percintaan banyak dipenuhi mimi-mimpi dan angan-angan yang tidak sesuai dengan kenyataan ketika menikah. Orang yang bercinta berjanji kepada pasangannya yang wanita untuk memberikan air susu. Sekali-kali ia tidak rela kecuali jika pasangannya menjadi orang yang paling bahagia di dunia, dan ia merasa siap untuk hidup berumah tangga dengannya kelak. Adapun yang wanita tidak memiliki keinginan dan permintaan kecuali hanya keberadaan pasangan di sisinya. Apakah ini cukup ?! Ini hanyalah ucapan simpati yang dibuat-buat (dalam bahasa gaul disebut “rayuan gombal”, ed).

Oleh karena itu, mereka akan lupa ketika sudah menikah atau bahkan melupakannya. Yang wanita mengeluh dengan kekikiran suaminya atau kurangnya perhatian suami. Adapun sang suami banyak menghindar karena banyaknya permintaan dan nafkah.

Oleh karena sebab-sebab inilah maka tidak mengherankan jika setelah pernikahan ada salah satu pihak dari suami atau istri yang merasa telah tertipu. Sang suami merasa tergesa-gesa dalam memutuskan dan menyesal karena ia tidak menikah dengan gadis pilihan ibunya. Sedangkan sang istri menyesal tidak menikah dengan calon suami pilihan orang tuanya! Akhir dari itu semua adalah penyelesaian yang paling akhir, yaitu perceraian.

Padahal keluarga menganggap bahwa pernikahan mereka adalah salah satu contoh pernikahan yang paling berbahagia di dunia.

Inilah sebab-sebab yang terperinci dan jelas, yang didukung oleh realitas yang ada. Namun kita tidak boleh meremehkan sebab utama dari pernikahan yang gagal tersebut, yaitu pernikahan yang dibangun atas dasar maksiat dan dosa kepada Allah Ta’ala. Maka Islam tidak akan membenarkan hubungan yang mengandung dosa tersebut walaupun dengan tujuan akhir pernikahan, sehingga akibat yang diterima pun berupa kesusahan.

Amat Merugi Orang yang Nekad Pacaran Dulu Untuk Menikah

Pentingnya Perhatian Suami Kepada IstriAllah Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

Yaitu kehidupan yang sempit dan menyakitkan sebagai akibat dari perbuatan maksiat mereka kepada Allah Ta’ala dan berpaling dari petunjuk wahyu.

Allah Ta’ala berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”(QS. Al-A’raf: 96)

Maka keberkahan dari Allah Ta’ala adalah ganjaran atas keimanan dan ketakwaan. Jika tidak ada iman dan takwa, atau kadarnya yang minim, maka sedikit pula keberkahannya atau bahkan tidak ada. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Maka kehidupan yang baik adalah buah dari iman dan amal shalih.

Demikian juga, Allah Ta’ala telah benar ketika berfirman:

“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS. At-Taubah: 109)

Oleh karena itu, kami berwasiat kepada para pemudi untuk tidak menerima pinangan kecuali lelaki yang shalih, yang mendekatinya karena Allah Ta’ala. Rasulullah bersabda:

“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia.”

(HR. at-Tirmidzi, dan dihasankan oleh al-Albani dalam al-Irwa (1868))

Maka jika seorang suami shalih berangan-angan dengan agamanya mendapatkan nikmat, ia harus bersyukur atas nikmat Allah Ta’ala berupa wanita yang menjadi tanggungannya. Ini merupakan bukti kebersihan fitrahnya, kuatnya iman, dan benar keyakinannya.

Karakter seorang pemuda muslim yang berpegang dengan Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya adalah tidak membutuhkan hubungan untuk saling mengenal sebelum pernikahan. Ia hanya masuk rumah melalui pintunya setelah ia meminta kepada orang tuanya. Kemudian ia melamarnya dengan lamaran yang sesuai dengan syariat dan jauh dari keraguan dan tuduhan.

Kepada siapa saja yang pernikahannya telah didahului dengan dasar yang haram ini, maka hendaklah ia bersegera untuk bertaubat memohon ampun kepada-Nya. Dan hendaklah ia memulai hidup baru yang shalih, yang dibangun atas dasar iman, takwa dan amal shalih.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala semoga menjauhkan kita dari segala jenis musibah dan fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Oleh: Mamduh Farhan Al Buhairi (Direktur Utama Rabithah Muslimin al-Judud)

Leave a Reply