Prakata Pernikahan Buat Temen “Sumbul Ketemu Tutup”

Ada istilah jawa yg paling menggambarkan pernikahan saya, “sumbul ketemu tutup”. Makna secara simplenya, sumbul itu sendiri adalah wadah yang biasa digunakan untuk naruh nasi. Tutup, ya tutup sumbulnya itu. :Happy-Grin:

Mengapa sumbul dan tutup memiliki keterkaitan yang demikian inspirasional sampai legendaris diabadikan sebagai perumpamaan dalam khasanah bahasa jawa? Sumbul ketemu tutup itu bener bener mewakili konsep pernikahan ideal. Kalau dalam pemikiran saya, sebagai berikut:

  1. Sumbul kalau tutupnya ndak pas, baik kebesaran / ke kecilan dipandang pun akan sangat nggak nyaman di ‘mata’. There’s something wrong, sama sekali ndak pas baik secara logika, etika, dan estetika.
  2. Kalau sumbul ndak pas dengan tutupnya, maka esensi (baca: nasi) yang dilindungi dari kegunaan dua barang ini pun akan cepat rusak, tak terawat dengan baik, dan hilang kegunaannya. Jelas dalam  rumah tangga ya jelas value yang dikejar dan di bangun saat awal memutuskan pernikahan.

Luar biasanya, :Geek: Qadarullah sumbul dan tutup ini ketemu tidak sebagaimana umumnya sekarang orang menuju pelaminan. Ndak ada pacaran, ndak ada TTMan, ndak ada HTSan. Prosesnya pun cepat sekali, ibarat hari ini ketemu didampingi wali dan ustadz, minggu depannya ada keputusan mau dilamar ndak, sela dua minggu lamaran resmi bersama keluargaku, dua minggu kemudian menikah. Malah praktis tidak selama itu prosesnya. Alhamdulillah, intinya kami, keluarga kami, alhamdulillah bisa dipahamkan bagaimana menuju dan menjalankan pernikahan se syar’i mungkin.

Asyiknya,Buah buah cinta hadir selepas akad nikah dengan sejuta kejutan, ternyata, ternyata, eh ternyata. Allahu akbar sumbul ketemu tutup. Karakterku yang ‘merah’, karakter istriku ‘yang menyeimbangkan merah’ menjadikan diriku ‘jinak’. Sebaliknya istriku yang cenderung ‘low profile’ sedikit ‘terangkat’ sebab karakterku yang sudah biasa ‘hidup di depan publik’. Banyak lagi lainnya. :Valentine-s-Day:

Sampai pada dunia bisnis, aku akui otak marketingku, otak bisnisku memang bagus, namun dalam dunia hitung hitungan mesti perlu bersabar banyak. Surprizenya, dapat istri alumni fakultas matematika dari UNY. so, akhir bulan tinggal naruh buku order kepadanya, muncul deh angka laba berapa juga detail angka-angka lainnya. Bener bener Allah tu tau yang selama ini aslinya aku butuhkan demi menunjang bisnisku.

NASEHAT PERNIKAHAN BUATMU & BUAT AKU SENDIRI :Cool:

BTW, menjelang hari H pernikahan sahabatku Wahyu “Mr Explosion” Septiarki. Aku sampaikan yang pertama, aku sangat ikut berbahagia ketika mendengar kabarnya. Ya berita menikahnya, ya dari beraninya dia mengambil tekad untuk menikah. Karena, ngaca diri dan sadardiri, Di dunia blog serta internet marketing, saya dan wahyu masih sama sama belajar hidup dalam passion dan ‘nyambut gawe’ dalam dunia yang orang ‘masih menganggapnya bukan pekerjaan’ jelas butuh keberanian tersendiri ‘mengambil’ tanggung jawab hak hidup seorang wanita disisinya.

But bro, saya menikah dulu juga dalam kondisi awal membangun bisnis online ini. Selisi beberapa waktu saja dari keputusan aku resign dari pekejaanku. Ya mulai dari hanya sekian lembar euro yang dikumpulkan dari blog demi blog, sampai alhamdulillah bisnis sekarang sudah lumayan bagus menjadi lahan hidup orang banyak. Itu semua hanya terjadi karena aneka kemudahan dariNya :Superman: .

Kedua, Ingatlah selalu Allah ar-Razzaaq (Yang Maha Memberi Rezeki) melalui rasulNya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjanjikan, “Ada tiga golongan manusia yang pasti ditolong oleh Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak yang ingin menebus dirinya (dengan membayar uang kepada majikannya) dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HR.at-Tirmidzi, no. 1655 dan an-Nasa-I, no. 3120, dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani). Maka mental cemen seperti apa yang masih membuat orang ndak menikah-menikah? Padahal Allah Yang Mahamenepati janji sudah menggaransinya.

:Approve: So, Syukuri apa yang sudah jalan sampai detik ini. Terus belajar, menikah bukan ujung pencapaian, namun gerbang menuju tugas Allah selanjutnya. Masih ada tugas mendidik diri agar bisa amanah memimpin keluarga terus jalan dalam aqidah islam, tuntunan sunnah, serta taubat bersihkan diri dari noda serta dosa yang pernah dilakukan.

Juga peran dalam mendidik istri, terus menjaga birrul walidain dari kedua keluarga, serta jalan hidup bermasyarakat. Terus ngaji, terus dengarkan kajian islam dari hari ke hari. Nambah AMANAH WAJIB NAMBAH ILMU SUNNAH dan AL QUR’ANYA, karena hanya di dua panduan itu segala solusi mujarab dari aneka solusi lainnya :Happy: .

Kurang lebihnya itu, maaf malah jadi berpanjang lebar. Semoga segala prosesnya bisa berjalan baik, aku dan istriku, serta insyallah teman teman psikologi undip turut berbahagia atas hari spesialmu itu. Titip serangkai doa di hari H mu kelak, “BArokallahu laka, wabaroka ‘alaika, wajama’akuma fi khoirin ( semoga kiranya Allah memberikan keberkahan kepada kamu, dan kepadakamu kamu masing masing, serta semoga Allah mengumpulkanmu [dipersatukannya kalian] hanya dalam kebaikan juga  menjadikan kebaikan bagi semuanya)”. :I-Wish:

Anjrah – Pasar Semarang Group

Leave a Reply