Apakah Aku Sudah Siap Menikah?

Suatu hari, bahkan ketika aku sudah menyampaikan khitbahku, muncul pertanyaan, “Apakah Aku Sudah Siap Menikah?“. Sebuah pertanyaan yang seliwar-seliwer di kepalaku. Simple sih, namun pertanyaan itu meminta jawaban yang tidak sedikit.

Ya pertanyaan simple yang aslinya full content.

Maksudnya apa full content?

  • Jelas berkaitan kesiapan mental mengemban amanah kehidupan
  • Faktor kesiapan kesungguhan dalam membagi waktu juga kehidupan
  • Sisi  finansial sebagai sarana rekreasi kehidupan
  • Kesiapan menghadapi segala konsekuensi ketika ijab qabul sudah terucap

Terus gimana solusi mengatasi kegalauan yang muncul itu?

Buku adalah teman terbaik.  Terus terang lebih banyak ilmu yang bisa diambil dan diserap dari sebuah buku mengingat dia merupakan kristalisasi sistematis dari pengalaman penulisnya. Aku inget pernah baca buku mengenai ilmu pernikahan yang ditulis oleh alumnus fakultas psikologi yakni Ust Muh. Fauzil Adhim dalam bukunya Indahnya pernikahan dini, buku penataan prioritas hidup Brian Tracy judulnya Eat that Frog!, dan buku sebelum mengambil keputusan besar itu ala Ust Anis Matta.

apakah aku siap menikah
Aih senangnya

Point besar yang disampaikan buku itu:

  • Buku Fauzil adhim memaparkan bahwa ada kalanya bahkan mereka yang sudah sangat siap dan sebenarnya udah waktunya nikah, cuman kog nggak nikah-nikah sebab terkungkung mindset “merasa belum mampu saja”. Padahal kalau mau merenungi dan menanyakan balik, insyallah perasaan semacam itu sekedar perasaan saja. Artinya, sebenarnya memang kita itu sudah mampu dan saatnya get merried
  • Brian Tracy mengajarkan penataan prioritas hidup. Katakanlah kalau secara pribadi saya ditanya, “anjrah, kalau hidupmu tinggal 3 bulan lagi, apa prioritas kehidupan yang mau kamu tunaikan?”. Jawabku (salah satunya), “menikah”. Alhamdulillah bulan pertama menyampaikan niat nikah ke ustadz, hitungan bulan ke dua  ini insyallah sudah walimah. Prosesnya sedikit sudah saya kupas di artikel, mudah, ketika memang sudah Allah mudahkan.
  • Giliran buku Anis matta melengkapi pemaknaan yang lebih proporsional mengenai aneka kesiapan fisik, psikis,agama, juga finansial yang memang sebaiknya kita sudah ‘matangkan saranannya’ agar setidaknya bisa menjadi batu pijakan awal menjalani pernikahan.

Realnya, aku sendiri meyakini, bahwa tidak akan pernah ada kata siap dengan kesiapan yang benar-benar siap, tidak akan pernah ada rejeki yang benar-benar cukup, tidak ada ilmu yang lengkap yang benar-benar super lengkap ketika menjalani dan menghadapi dinamisnya kehidupan berumah tangga.

Soal ilmu misal, realnya dalam pernikahan kita selalu akan belajar. Karena waktu itupun terus berjalan. Hari ini,detik ini, kalaupun kita sudah menikah, kita aslinya sekedar berada pada area tugas perkembangan hidup kita yang TIDAK AKAN PERNAH MUNDUR.

“Every day is learn and learn day”

Hari ini berinteraksi, berkomunikasi, belajar mind manager dengan istri kita sebagai seorang pria dewasa dengan omzet bisnis puluhan juta. Nanti beserta kompleksitas lain, kita melanjutkan bahtera rumah tangga sudah berkomnunikasi dalam format yang beda. Jelas membutuhkan sendiri ketika berkomunikasi saat istri kita baru mengasuh anak satu dibanding mengasuh anak tiga.

Artinya apa? kehidupan rumah tangga berjalan dinamis, isinya hanyalah selalu belajar dan belajar. :).. apakah sepakat jadinya, “tidak akan pernah ada ilmu yang cukup untuk berumah tangga?”.. hehe,, dan semuanya, “Every day is learn and learn day”.

So, “Apakah Aku Sudah Siap Menikah?”

INSYA ALLAH SIAP!