Share Alasanku Tidak Memberikan Vaksin Kepada Istri dan Anak Anakku

[gagal paham ttg Vaksin] Pas nganterin istri periksa ke bidan, sempat mendiskusikan kepada bidan mengenai permohonan dari kami agar ketika nanti begitu bayi lahir, tidak langsung di bombardir dengan suntikan imunisasi …

Ya, intinya di komunikasikan sejak awal. Karena saya paham, protap bu bidan yakin sudah menyiapkan stidaknya 2 jarum suntik begitu bayi dilahirkan. Dengar dengar minimal 1 suntikan imunisasi di paha sebelah dengan 1 Vaksin Hemofilia paha bayi satunya dengan vaksin hepatitis.

Yang aku gagal paham, kog sampai hemofilia juga ada vaksinnya. Bukankah hemofilia adalah kelainan pada sistem pembekuan darah dan termasuk penyakit genetik yang diturunkan melalui kromosom X. Apa hubungannya dengan suntikan vaksin?

Belum lagi dari habis berkunjung ke seorang teman yang barusan melahirkan, anaknya ditawarkan vaksin diare. Yang mana, vaksin diare itu gratis. Fasilitas tambahan bagi yang vaksin diare, kalau selama pakai vaksin itu ‘ada apa apa’ gratis nanti langsung bisa kontak dokter / tenaga medis yang ditunjuk

Ini aku dalam tataran membagi isi kepalaku aja sih, tidak dalam kampanye no vaksin atau gimana.

Ehm ya, yang blm ngeh juga sampai sejauh ini, seberapa ‘bergantungnya sih kita ini sama vaksinasi vaksinasi semacam itu?’ kog sampai demikian banyak diciptakan beragam vaksin- vaksin yang ada.

Aku mikirnya,
1. Mengapa pola pikirnya nggak dibalik, alih alih kita diciptakan sebagai manusia berketergantungan dengan ‘kekebalan buatan’ semacam itu, mengapa manusianya tidak diajari melatih dirinya agar memiliki kekebalan tubuh prima?

2. Mengapa orentasinya selalu mengutamakan ‘kalau ada penyakit ayo disembuhkan’ bukan ke arah, pie caranya selalu sehat dan menjaga kesehatan jauh jauh hari sebelum sakit.

3. Mengapa tidak diajari manusia belanja ‘penjagaan kesehatan’ dari bada belanja ‘pengobatan’, yang sebenarnya kalau di hitung hitung, belanja ‘penjagaan kesehatan’ jauh lebih murah daripada ‘belanja pengobatan’

4. Fokus ke vaksinansinya, iya, katakanlah vaksin itu ‘virus yang dilemahkan’ lalu di gadang gadang diharapkan bisa menjadi ‘tambahan pasukan kekebalan tubuh’ kalau tubuh membutuhkan bantuan melawan penyakit tertentu.

Pertanyaannya:
a. Sejauh mana sih ‘proteksi’ yang sudah dibikin sebagai border kepada virus lemah tersebut sehingga suatu hari pas kekebalan tubuh alami kita menurun tidak blunder malah menyerang tubuh? Kiper aja yang dilatih maksimal profesional  menjaga gawang suatu hari bisa blunder.

b. Dipikir dari otak gamers saya, kalaulah pasukan tambahan ini dimasukan ke dalam tubuh. realnya dia markasnya dimana? side by side sama kekebalan tubuh asli? atau dia ngendon dimana? Bagaimana mekasnisme dia dari markas tersebut meluncur menghadapi serangan yang masuk ke tubuh? Sampai sejauh ini blm diketemukan mekanisme yang real dan masuk akal mengenai ini.

c. Sebenarnya ‘pake bahasa apa sih’ si vaksin ini bisa komunikasi sama kekebalan tubuh asli kita? bayangin, ada dua serdadu masuk ke tubuh kita. satu serdadu asli, satunya serdadu ‘tambahan’ yang dimasukin. Kalau keduanya tidak bisa berkomunikasi dengan baik di dalam tubuh, bagaimana bisa bekerja sama? jangan jangan malah perang sendiri

d. Katakanlah ini masalah vaksin urusan darurat. Parameter daruratnya ini kadang aneh aja sebab masih banyak alternatif yang bisa ditempuh selain memvaksinkan diri. Utamanya atas vaksin ‘remeh’ macem vaksin diare dan vaksin influensa biasa.

e. Anehnya lagi, konon, vaksin itu adalah virus yang dilemahkan. harapannya pas nanti ada serangan virus beneran, virus yang dilemahkan ini bisa membantu tubuh memberikan perlawanan. pikiran saya, gimana logikanya, sesuatu yang sudah lemah bisa memberikan perlawanan? masih beruntung virus yang lemah ini nggak membelot ikut jadi pasukan tambahan bagi virus itu sendiri. Kan apa jaminannya juga si ‘virus yang dilemahkan itu’ tetap ikut dalam barisan kekebalan tubuh asli kita? dan aneka pemahaman lain seputar vaksin yang masih bener bener susah dinalar pakai nalar awam seperti saya ini.

f. Vaktor keamanan dan kehalalan. Keamanan keterbebasan vaksin dari bahan mineral berbahaya yang digunakan untuk ‘melemahkan virus’, termasuk media pengembangbiakan virus yang sering diragukan kehalalannya. Ini butuh pembahasan tersendiri.

5. Lebih ke penghargaan. Bahwa kesehatan saya pikir merupakan salah satu bentuk hak asasi. Tolong lah, kami kami yang memilih NO VACCINE dipermudah. Lagian dalam Permenkes NOMOR 290/MENKES/PER/III/2008 http://db.tt/7Bb91xWz jelas jelas dikatakan bahwa setiap tindakan medis butuh persetujuan dari keluarga terdekat.

Simpelnya mikir, kembali ke nyatanya aja. Kalaupun sampai ada hal hal yang tidak di inginkan, toh semuanya akan kembali ke keluarga. Tenaga medis mana yang sampai mengurus semua itu detailnya, atau malah seringnya berkilah “ini sudah sesuai protap”. Nah, protap itu yang tidak semua kami ini menyetujuinya.

6. Tentu dengan NO VAccine, tetep harus di iringi dengan pola hidup sehat lainnya. Bukan sudah tanpa vaccine malah ngawur dalam pola hidupnya. Tetep ajarkan pada anak makan makanan sehat, kurangi gorengan, jauhi life style buruk, konsum makanan yang mendukung sistem kekebalan tubuh, olahraga yang cukup, dan lain lainnya.

Ya wes deh, syukurnya Pas pernikahan dulu alhamdulillah dimudahkan tanpa vaksin. Aku dah sharekan di Surat keterangan Tidak Bersedia di Imunisasi  dan Sharing Bisa Bebas Imunisasi Pra Nikah.

Ya, harapannya Status ini juga diharapkan menjadi titik tengah, biar nggak selamanya penggunana facebook cuman disuguhkan debatnya aja. Namun di jabarkan alur pikir masing masing. Bagi calon bapak, ibu, dan umumnya temen temen lain yang udah baca status ini terima kasih. Semoga ada yang bisa diambil ilmunya. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Share Alasanku Tidak Memberikan Vaksin Kepada Istri dan Anak Anakku